Ketika Harus Ada Yang Berpulang

6 11 2011

Sudah siapkah kita saat ada anggota keluarga, orang terdekat kita harus berpulang ke rumah Bapa? Atau mungkin jika kita sendiri yang harus berpulang. Kalau dulu saya tidak pernah mau memikirkan atau lebih jelasnya melarikan diri dari pertanyaan seperti itu. Itu adalah hal yang tak terbayangkan, yang menakutkan, yang dan yang lainnya. Dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia serta pemahaman, akhirnya saya berani memikirkan hal itu.

Papi saya meninggal ketika saya berusia 7 tahun, ketika itu kami tinggal di Pekan baru, Riau, karena papa saya mendapatkan tugas kerja disana.
Kepergian beliau yang tiba2 karena penyakit jantungnya dan saat itu saya masih kecil membuat saya tidak mampu berpikir dalam. Yang saya rasakan adalah ketika teman2 saya punya papa yang bisa diandalkan, saya tidak punya. Namun tiap kali saya melihat atau mendengar suara ambulance dijalan, membuat hati saya sedih. Hal itu saya alami terus sampai usia saya dewasa. Mungkin ada orang terdekat saya yang mengerti dan memaklumi namun ada juga yang menganggap saya berlebihan. Untuk itulah semuanya saya simpan dihati.

Dengan berjalannya waktu saya mencerna siklus kehidupan. Manusia dilahirkan, dibesarkan, dan ketika dia menjadi dewasa dia menikah.Kemudian punya anak, punya cucu, tua dan akhirnya meninggal. Manusia ada karena diciptakan Tuhan. Segala kehidupan ini diatur dan dimiliki Tuhan. Kapan waktunya Tuhan ingin mengambil kita, kita ga tau. Hidup didunia ini hanyalah sementara, ngga mungkin kita hidup terus2an. Karena walaupun kita ingin hidup tapi jasmani kita terbatas. Hidup terdiri atas tubuh, jiwa dan Roh. Tubuh dan jiwa tidak abadi, hanya Roh yang abadi. Roh yang akan kembali saat kita dipanggil.

Seberapapun kita sayang dengan keluarga atau dengan orang terdekat kita, saat dia meninggal, tetap harus dikuburkan, kalo tidak maka jasadnya akan membusuk. Demikian juga dengan diri kita. Sering saya seram membayangkan kalo saya mati, enakan dibakar apa dikubur yah? Dibakar aduh panas….menyeramkan…. Dikubur.. Aduh seram yah didalam peti sendirian, ada binatang kecil2 yang akan menggerogoti tubuh kita. Belum lama ini saya harus ikut MRI. Ketika saya masuk ke alat MRI itu, yang terbayang adalah “mungkin begini rasanya didalam peti nantinya”. Sendirian…. Duuh bagaimana bila ternyata kita cuma mati suri??? Wah kalo mikirin begitu ga ada habisnya deh….

Kembali ke siklus kehidupan, kalo tidak ada manusia yang meninggal, maka dunia ini akan penuh sesak. Yah….kelahiran dan kematian adalah kepastian. Lahir dikeluarga manakah kita, kita tidak bisa memilih. Demikian juga dengan cara apakah Tuhan memanggil kita, tidak bisa kita pilih juga. Banyak orang yang harus sakit bertahun2 sebelum akhirnya di panggil Tuhan, tapi ada juga orang yang dipanggil Tuhan dengan tiba2. Saya juga pengen cara terakhir. Tp kan kita ga bisa pilih yah…Kecual kalo kita sendiri yang ingin mengakhiri kehidupan, baru kita bisa pilih. Tp setelah itu kemana kita pergi pasti kamu tau jawabannya. Menjalani kehidupan adalah pilihan. Akan seperti apakah hidup kita, akan jadi apakah kita, akan kemanakah kita setelah meninggal itu adalah pilihan. Semua agama mayoritas mengajarkan surga dan neraka. Tempat dimana Roh kita akan pergi saat kita berpulang.

Rasa sedih dan kehilangan pastilah kita rasakan. Karena hubungan perasaan dengan orang yang kita cintai adalah salah satu wujud kedekatan antara kita dan dia. Tapi semua hal itu akan berlalu. Jadi teringat dengan kata2 Ajahn Bram “Semua akan berlalu”. Yang tertinggal adalah kenangan indah. Dan kehidupan kita yang ditinggalkan pun harus tetap berjalan, karena tugas dan waktu kita didunia ini belum selesai.

Saya teringat ada beberapa kisah saat orang berada di posisi sakratul maut. Ada yang ketakutan, karena ada mahluk berjubah hitam yang siap menjemput, ada juga melewatinya dengan tenang karena ada mahluk berjubah putih yang siap menjemputnya. Akan kemanakan mereka? Kamu pasti sudah tau jawabannya.

Semua pemikiran itu membuat saya bisa berpikir jernih, bahwa hidup ini hanyalah sementara, kita harus menjalani hidup dengan baik sesuai dgn ajaran agama kita, yang mengajarkan bagaimanakah hidup baik saat didunia maupun saat Tuhan memanggil kita. Dan Tuhan jugalah yang akan mendampingi, mengingatkan kita dalam menjalani hidup yang sementara ini. Jadi teringat pepatah “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Itu mungkin lebih berhubungan dengan diri kita. Supaya kita bisa hidup lebih baik, untuk masa depan kehidupan roh kita saat kita dipanggil Tuhan.

Jadi teringat lagi lagu Bila tiba waktuku yang dinyanyikan oleh Band Ungu :
Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Ku akan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku
……………..
Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Izinkan aku mengucap kata taubat pada-Mu

Untuk orang2 yang kita cintai, sayangilah selagi mereka masih hidup. Tunjukanlah cinta dan kasih sayang kita selama kita bisa, karena kalo sudah waktunya Tuhan memanggil mereka, tidak bisa kita tahan, walaupun hanya sedetik yang kita minta untuk membahagiakan dia.

Saya sengaja membuat tulisan ini, supaya saya ingat ketika ada orang yang kita cintai harus ada yang berpulang atau pun mungkin saya sendiri saya bisa menerimanya dengan ikhlas dan sabar, dan bisa mengantarkannya pulang dengan senyum. Dan jangan sampai kita akan mengatakan bahwa “semuanya sudah terlambat”. Karena bagi orang beriman, kematian hanyalah kepindahan ke dunia yang lain. Dunia yang lebih indah. Kematian adalah keuntungan bagi orang beriman, dan artinya tugasnya didunia telah selesai.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: