Preeklamsia

18 12 2012

Ini adalah kisah yang menyedihkan sekaligus banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman ini. Tulisan ini udah lama pengen saya tulis, agar saya bisa lebih ringan menjalani kehidupan ini, dan saya berharap bisa menjadi inspirasi juga buat teman2 yang mengalaminya.

Berawal dari kehamilan yang tidak direncanakan namun diinginkan, karena saya maunya punya anak 3 orang (saya punya janji khusus sama Tuhan). Kehamilan itu sendiri dimulai dibulan April 2011.

Sebelum saya hamil anak ketiga ini, saya memang sudah mengidap penyakit darah tinggi, yang saya ketahui kira2 tahun 2008,  saat anak ke 2 saya berusia 3 tahun, dan memang ada riwayat penyakit darah tinggi dari mami saya. Dr internist saya sudah menyarankan saya supaya saya tidak hamil lagi, mengingat penyakit dan usia yg sudah lumayan. Namun karena sudah terlanjur hamil ya sudahlah saya jalanin aja dulu. Tentunya dengan doa. Dan saya pun hamil anak ke 3 ini diusia 39 tahun. Untuk obat darah tingginya saya diberikan dopamet 250.

Pada awalnya normal2 aja sih, namun pada usia kandungan saya memasuki usia 3 bulan, mulai deh tekanan darah tinggi saya naik.  Dokter kandungan memberikan saya obat adalat oros. Dan dr menyarankan saya untuk konsul ke dr internist, dan dia juga mengatakan kalau dr internist menyatakan tidak aman, maka kandungan saya harus dibatalkan.

Wah saya cukup shock dan ga nerima keadaan ini. Akhirnya saya ganti dr kandungannya, kembali kepada dr kandungan saya pada saat saya hamil anak ke 1 dan 2. Beliau bilang dijalani saja dan diusahakan yang terbaik. Dan saya pun konsul ke dr internist langganan saya. Akhirnya diberikan obat darah tinggi lagi dan dosisnya dinaikan.

Pada usia kandung 6 bulan, tiap hari punggung saya sakit tembus sampai ke maag, sengsara banget tiap hari dan malam saya ga bisa tidur, karena makanan pun dijaga akhirnya saya cuma makan bubur putih aja, dan penyakit tangan yang baal dan sakit tetap ada, kemudian saya ga tahan lagi akhirnya pergi ke internist lagi, dan saat itu saya udah menggunakan kursi roda. Setelah periksa dokter suruh saya untuk check ke laboratorium dan diketahui trombosit saya rendah, sekitar 98 rb. Standarnya 150-200 rb lebih. Akhirnya saya dirawat dan menerima 2 atau 4 kantong trombosit. Dan dicek bukan DB. Saya dikasih saudara Jus Jambu tujuannya untuk naikin trombosit , tp kondisi sakit saya makin parah, malah bertambah sakit. Pas hari ke 2 saya telepon Pak Pendeta kami yaitu Bpk Handoyo Santoso dan minta didoakan, beliau mengatakan ga apa-apa, 2 hari lagi udah bisa pulang. Abis didoakan trombosit saya turun lagi, sampai pernah mencapai 36 rb kalo ga salah, tapi benar keesokan harinya naik lagi, dan tepat 2 hari kemudian saya udah boleh pulang. Puji Tuhan.

Selama berada dirumah kondisi saya udah mendingan ga sakit lagi dibagian maagnya tp karena dirumah sakit saat trombosit turun harus banyak minum dan diinfus cairan dan trombosit akhirnya berat badan saya makin bertambah dan jadi bengkak disana sini, BB saya mencapai 80 kg lebih. Akhirnya saya diet minum. Karena merasa tidak cocok dengan internist lama saya akhirnya saya pindah dr internist kenalan dari dr kandungan saya. Oleh dr internist baru ini saya diberi obat darah tinggi 3 macam, sehari 3 kali dan ada 1 obat 4 kali. Jadi total sehari saya makan obat darah tinggi 10 butir. Dr sangat khawatir dgn kondisi saya dan saya harus kontrol ke internist tiap minggu, kalo ke dr kandungan sih masih normal sekitar 2 minggu. Dari hasil USG dr kandungan janin saya kecil dan BB nya ga sesuai karena asupan gizi terhambat karena hipertensi hebat yang saya alami.

Pada saat itu, saya rajin mencatat tekanan darah tinggi, tapi karena hasilnya selalu tinggi terus, membuat saya menjadi pesimis, tiap hari saya tidur dikamar yang terpisah dari suami dan anak saya, karena takut mengganggu mereka. Karena tiap malam saya ga bisa tidur dan sering pipis, dan karena saya sulit berjalan akhirnya dikamar saya disediakan pispot duduk. Setiap saat saya berpikir dan saya sudah pasrah pada Tuhan, apapun yang terjadi dengan saya, saya ingin Tuhan selalu bersama saya, dan jika Tuhan memanggil saya dan bayi dalam kandungan saya, saya sudah pasrah, dan saya hanya berdoa supaya Tuhan menerima saya dan bayi saya, dan membimbing keluarga saya yaitu suami dan ke 2 anak saya yang amat saya cintai. Walaupun waktu saya banyak untuk menulis diary atau posting diblog saya, ttg penderitaan yang saya alami, karena saya pikir baik juga untuk teman2 yang mengalami hal seperti saya, tp akhirnya saya putuskan tidak saya tulis, karena saya pesimis bisa terus hidup dan selamat. Dan jika saya tidak terus hidup akan membuat miris setiap orang yang membacanya terutama keluarga dan teman2 saya.

Pada saat usia kandungan saya kira2 7 bulan, tgl 10 September 2011, saya berkonsultasi dengan Pak Pendeta Handoyo Santoso lagi, dan kali ini kami bertemu beliau di gereja. Saat itu beliau mengatakan tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan asalkan kita terus berdoa dan memohon pada Tuhan. Terbukti istrinya yang tadinya darah tinggi sekarang sudah normal dan tidak minum obat, beliau mengatakan juga, minggu depan masalahnya selesai. Setelah didoakan kami pun pulang, tapi kita belum ngeh mengenai perkataan beliau “minggu depan masalahnya selesai”.

Tepat hari sabtu saya berusaha untuk masak untuk keluarga, setelah saya masak saya beristirahat dan merasakan bayi saya bergerak dan agak sakit,  saya agak curiga juga, tapi saya pikir tidak terjadi apa2. Tapi setelah saya rasakan lagi kok bayi saya seperti ada yang aneh, tidak bergerak, tp karena selama ini juga gerakannya jarang saya pikir ga apa2. Penasaran saya ke bidan, saya lupa hasilnya apa, tp karena hari senin, tgl 19 September jadwal saya kontrol ke dr kandungan jadi saya tunggu sampai senin. Malamnya saya mencari2 nama untuk bayi saya, akhirnya saya menemukan nama yang cocok, yaitu Darrel Tristan Cahyadi.

Bahtera Nuh

Tiba hari senin pagi, 19 September 2011, saya periksa ke dr kandungan, dan dr memeriksa dgn USG sampai beberapa kali, sampai akhirnya dia menyampaikan kepada saya dan suami bahwa anak kami telah meninggal. Sungguh kaget sekaligus pasrah saat itu mendengar semuanya. Dokter menyarankan kami untuk USG 4 dimensi didaerah Perumahan Gading Serpong. Karena tempat USG buka siangan akhirnya kami pulang, kami berdoa dan menangis. Saya tidak memberitahukan ke anak dan mama saya, dan siang kira2 jam 2 kami pergi ketempat USG 4 dimensi. Karena alat USG berada di lt 2, susah payah saya menaiki tangga. Setelah diperiksa dan diyakinkan bahwa benar bayi kami telah meninggal, akhirnya suami saya mengatakan agar dioperasi secepatnya, krn kalo semakin lama saya akan bertambah sedih. Saya yang saat itu udah ga tau lagi harus gimana hanya bisa pasrah saja, akhirnya kami menelepon dr kandungan dan dr internist dan dia katakan itu lebih baik, malam ini di observasi, besok pagi langsung cesar. Satu permintaan saya, saya mau beli baju untuk anak saya, akhirnya kami mampir ke Mall SMS dan saya duduk dikursi roda, untuk beli baju, selimut, topi, sarung tangan dan kaki,  bantal serta kalung salib. Dan saya pun tertarik dengan replika bahtera Nuh, yang berisi 5 hewan, cocok dgn keluarga kami. Karin mengatakan Gajah itu Papi, Kura2 itu Karin, Singa itu Koko Nathan Kuda itu Mami dan Kelinci itu Darrel. Masih terbayang rasa sedih saat itu, saya belanja sambil menitikan airmata. Tapi semua ini harus saya jalani dan saya harus tabah, dan terus berdoa agar diberi kekuatan.

Setelah selesai berbelanja, kami langsung ke rumah sakit Siloam Glen Eagles Karawaci. Dan masuk ruangan rawat inap umum. Menjelang malam dr kandungan dan dr internist pun datang datang dan mengecek kembali, malam harinya saya minta dari bagian kebidanan untuk USG melalui suara lagi untuk menyakinkan keadaan bayi saya, saya takut salah diagnosa dan berharap ada keajaiban untuk bayi saya. namun hasilnya sama. Saya berusaha menghibur diri dan berusaha untuk tabah. Selain obat hipertensi, saya pun di transfusi albumin sekitar 4 kantong, saya juga diberi obat penenang, dan dipasang kateter. Malam hingga pagi hari entah berapa kali suster membuang air seni dari kantong kateter, yang pasti pagi hari kaki saya sudah normal dan bagian tubuh lainnya langsung kempes, ga bengkak lagi. Kami jadi teringat kata2 Pak Pendeta kami, “minggu depan masalahnya selesai”. Yah inilah jawaban dari doa kami.

Ketika tiba saatnya saya memasuki ruang operasi, saya berusaha untuk tenang, seperti biasa saya disuntik bius untuk cesar yaitu separoh badan, namun untuk kali ini dosisnya dilebihkan, karena mereka takut saya shock. Saya paling takut disuntik, apalagi suntik di tulang belakang. Setelah bayi keluar saya bilang ke suster saya mau lihat anak saya, dihati saya sedih dan menangis, tapi karena pengaruh obat bius jadi seperti melayang aja, saya sempat menciumnya, namun ga bisa memegangnya karena tangan saya diikat dua2nya. Diluar suami, mama, sepupu, kakak dan ada pendeta beserta istrinya sudah menunggu, bersama peti dan pakaian untuk anak saya. Sedih rasanya, dan masih berasa hingga saat saya menulis ini. Setelah dipakaikan baju yang telah saya siapkan mereka berdoa dan membawa peti tsb ke makam keluarga, tanpa saya. Dan saya masih dikamar operasi, karena saya sekalian steril.  Setelah operasi selesai badan saya sempat menggigil, karena diruang pemulihan dingin sekali, tensi saya pun jd tidak teratur. Untung diberi penghangat sampai berlapis2. Yang menjadi penyemangat saya adalah ke 2 anak saya yang masih ada. Yah saya harus kuat untuk mereka.

Setelah sekitar 2 jam saya keruang rawat biasa lagi. Suami saya sudah kembali dan semuanya sudah beres katanya. 2 malam saya dirawat lagi, baru kemudian pulang. Berat badan saya pun turun 15 kg. Ringan rasanya sampai melayang, krn dlm waktu sekejap kehilangan 15 kg.

Setelah kembali kerumah, semuanya perlu penyesuaian, walaupun sedih banget, tapi perlahan saya dan keluarga mulai bisa beradaptasi dan menerima keadaan, ya inilah jalan yang dibukakan Tuhan untuk keluarga kami. Nathan dan Karin pun berasa kehilangan, Karin yang sudah berlatih memberikan susu dan mengganti popok dan Nathan yang udah siap ajak main adik barunya akhirnya perlahan bisa diberi pengertian. Untuk mengobati kesedihan saya pun mencari pekerjaan lagi dan di awal Januari 2012 pun saya sudah memulai pekerjaan yang baru. Yah segala sesuatu ada masanya, ada masa sedih dan ada masa senang, dan semuanya pun akan berlalu. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan hidup lagi oleh Tuhan, untuk mendampingi suami dan ke 2 anak saya. Thanks God……

**Ini adalah tulisan penuh perjuangan dan tulisan terlama yang pernah saya buat.


Aksi

Information

One response

11 12 2014
Lusi

Saya juga mengalami yang sama..🙂 Putri kecil saya juga meninggal setelah 5 bulan di NICU.. Terima kasih buat sharingnya yang menguatkan..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: