Kehilangan jati diri

14 09 2012

Belum lama ini saya sering mendengar di salah satu stasiun radio favorit saya, pembahasan mengenai wanita yang sudah berumah tangga, menjalani rutinitasnya sebagai istri dan ibu bagi anak2nya, pada akhirnya akan merasa kehilangan jati dirinya. ┬áNah bener nih…. saya juga ngerasain hal yang sama. Sebenernya saya udah nyadarin hal ini dah lama nih. Saya pikir2, saya kan bekerja, pulang ngurus rumah tangga, tidur, bangun pagi, beres2 berangkat kantor lagi, kalau weekend yah bareng keluarga. Memang saya menjalaninya dengan rasa enjoy banget, apalagi namanya punya anak, semuanya untuk anak, ngeliat lucunya, dan semuanya deh. Walaupun kadang ada ngeselinnya, tapi semua rasa kesel itu ilang setelah kita memeluk mereka, dan ngeliat mukanya yg lucu2.

Namun setelah beberapa tahun menjalaninya, akhirnya saya merasa ga punya waktu untuk diri sendiri. Sampai suatu saat saya bicara sama suami, kalo saya mau punya waktu sendiri, saya pilih hari jumat sepulang kerja, saya mau ngapain aja terserah saya deh. ┬áKarena salah satu hobby saya adalah jalan2, akhirnya saya sering ngadain tour yang persertanya adalah teman2 saya dan kerabat2nya. Wah seru deh…

Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan karena keadaan juga, sekarang saya ga punya waktu untuk jalan2 lagi nih.

Yang ingin saya bicarakan sebenernya adalah apa yang dibahas oleh stasiun radio itu bener, dan kalau sampai dibahas seperti itu, berarti yang ngalamin dan punya perasaan seperti saya itu ternyata banyak. Tinggal sekarang bagaimana kita menyikapinya. Kalo saya pikir2…… yah memang begitu adanya, yah dijalanin aja deh yah…….

Iklan




Life Begin At 40

6 11 2011

Life begin 40. Yaaa kita sering mendengar kalimat ini. Dan saya bersama teman seangkatan pun akan memasuki masa ini. Namun sadarkah kita??
Sejujurnya saya sih ga sadar ^_^. Bagaimana dengan anda??

Menurut saya yang membuat kita ga menyadarinya adalah :
Rutinitas
Ya hidup kita yang senantiasa kita jalani tanpa punya waktu untuk merenungi sampai dimana kita berjalan.
Bangun pagi, urus anak2, mandi, makan, berangkat ke kantor, kerja, pulang kerja, mandi, makan, berdoa, tidur. Ya, teruslah seperti itu, terkadang diselingi dengan jalan-jalan, browsing, chatting, buka facebook, dll. Begitu dan begitu terus setiap hari.

Kemampuan yang masih prima
Sebenarnya ini sih relatif, kalo yang membutuhkan tenaga lebih besar mungkin ga lagi. Tapi untuk kegiatan sehari-hari, baik secara kemampuan berfikir, maupun kemampuan fisik sih masih oke lah. Bahkan cenderung prima.

Pergaulan seusia
Kebetulan teman dekat dan teman dikantor saya sih pergaulannya rata2 seusia, bahkan ada yang lebih tua, tapi kami masih suka bercanda, cari makan yang enak2, jalan-jalan. Jadi hidupnya indah ^_^ deh.

Namun saat ini saya sering berpikir, ya sebentar lagi saya akan memasuki usia 40 tahun. Walaupun belum saya ingin melewatinya dengan sadar, karena tahun-tahun sebelumnya saya ga menyadarinya.

Menurut saya sih yang membuat saya sadar adalah :

Uban
Ya, uban mulai tumbuh nih….hiks..hiks..hiks.. Dulu-dulu sih udah ada uban, tapi ga sebanyak sekarang nih. Saya baru tersadar ketika office girl dikantor yang biasa saya suruh cabutin uban bilang gini “Mba kalo dicabutin bisa botak nih…!” Alamak… sebanyak itu kah??
Dan suatu hari saya melihat uban di kumis my hubby, wah..ternyata my hubby pun sudah tua…hehehe….

Menurunnya kesehatan/berkurangnya tenaga
Saya teringat ketika masih kuliah dulu, beberapa kali naik gunung gede, wah indahnya ngeliat bunga edelweis, makan nasi rendang/ayam goreng di puncak gunung disaat orang lain makan indomie hehehe…Makasih buat karyadi yg udah ngasih tips ini.
Wah kalo sekarang ngeliat hasil laboratorium, yg pertama diliat adalah kadar kolesterol, triglersida. Ada bintangnya ga yah?? belum lagi hasil tensi. Kebetulan saya mengidap hypertensi, baru sekitar 2 tahun kayanya. Padahal dulu darah rendah. Wah ternyata kalo ngobrol2 sama teman pun ada yang sakit darting juga, dan mengkonsumsi obat darting rutin. Welcome to the club friend…
Ya masing-masing dari kita pun punya dokter pribadi deh. Yang paling banyak pasti internist deh…

Saya teringat ketika bertemu teman2 kuliah dulu di pemakaman salah satu teman kuliah. Dia masih muda belum mencapai usia 40. Meninggal karena sakit. Disitupun kami terlibat perbincangan “Iya yah ternyata kita dah tua, ada beberapa teman kita yang meninggal, dan hasil check laboratorium kita pun udah banyak bintangnya” hehehe bener juga yah…

Kalau lagi nemenin anak ke dufan, wah saya dah ga sanggup deh naik halilintar dan teman2nya. Paling2 naik istana boneka..hihihi…

Ada beberapa cerita juga yang membuat saya sadar bahwa saya dah tua sih.

Jadi teringat cerita seorang teman yang diundang di acara organisasi jurusan HIMTEK dikampus Binus, setelah dia berbicara dan cerita pada saat kami kuliah dulu, sang moderator pun mengatakan “Bayangkan saat kakak ini kuliah, kita baru dibuat” wkkkkkk..bener juga sih, yang kuliah ditahun 2010 kan usianya paling 18 tahun, mereka lahir kurang lebih tahun 1992dan angkatan kami adalah angkatan 1992. Uuupssss..beneran tua nih..tak bisa dipungkiri lagi hehehe…

Kalo mau tidur saya seringkali memandang wajah anak saya yg satu umur 8 tahun, yang satu umur 6 tahun. Busyet deh..anak gw dah gede nih…

Untuk memasuki usia 40 tahun saya lebih suka merenungi apa yang telah saya lalui, saya perbuat, saya rasakan dan juga apa yang telah saya capai.

Saya sangat bersyukur dengan semua yang telah saya lewati, walaupun mungkin ada beberapa hal yang hasilnya tidak sesuai dengan rencana, tapi saya tetap bersyukur karena semuanya itu bisa menjadi pengalaman yang berharga.
Saya telah berkeluarga, dan mempunyai 2 anak yang lucu dan menyenangkan. Walaupun mungkin saya tidak sesukses teman-teman lain yang sukses, tapi saya bersyukur karena sampai saat ini saya dan keluarga tidak pernah kekurangan.
Seperti pemazmur mengatakan, “Tuhan adalah Gembalaku, tak kan kekurangan aku”.

Saya teringat ucapan Ajahn Bramm dalam bukunya “Semua akan berlalu”. Ya benar apa yang diucapkan dia. Semua akan berlalu. Semua hal yang menyenangkan, menyedihkan sudah berlalu.

Saya ingin memasuki usia 40 tahun dengan kesadaran yang lebih tinggi. Ingin menjadi lebih baik, lebih bisa mengontrol diri dan ucapan, lebih bijaksana dalam segala hal, lebih bisa merencanakan segala sesuatu dan lebih dekat dengan Tuhan.





Ketika Harus Ada Yang Berpulang

6 11 2011

Sudah siapkah kita saat ada anggota keluarga, orang terdekat kita harus berpulang ke rumah Bapa? Atau mungkin jika kita sendiri yang harus berpulang. Kalau dulu saya tidak pernah mau memikirkan atau lebih jelasnya melarikan diri dari pertanyaan seperti itu. Itu adalah hal yang tak terbayangkan, yang menakutkan, yang dan yang lainnya. Dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia serta pemahaman, akhirnya saya berani memikirkan hal itu.

Papi saya meninggal ketika saya berusia 7 tahun, ketika itu kami tinggal di Pekan baru, Riau, karena papa saya mendapatkan tugas kerja disana.
Kepergian beliau yang tiba2 karena penyakit jantungnya dan saat itu saya masih kecil membuat saya tidak mampu berpikir dalam. Yang saya rasakan adalah ketika teman2 saya punya papa yang bisa diandalkan, saya tidak punya. Namun tiap kali saya melihat atau mendengar suara ambulance dijalan, membuat hati saya sedih. Hal itu saya alami terus sampai usia saya dewasa. Mungkin ada orang terdekat saya yang mengerti dan memaklumi namun ada juga yang menganggap saya berlebihan. Untuk itulah semuanya saya simpan dihati.

Dengan berjalannya waktu saya mencerna siklus kehidupan. Manusia dilahirkan, dibesarkan, dan ketika dia menjadi dewasa dia menikah.Kemudian punya anak, punya cucu, tua dan akhirnya meninggal. Manusia ada karena diciptakan Tuhan. Segala kehidupan ini diatur dan dimiliki Tuhan. Kapan waktunya Tuhan ingin mengambil kita, kita ga tau. Hidup didunia ini hanyalah sementara, ngga mungkin kita hidup terus2an. Karena walaupun kita ingin hidup tapi jasmani kita terbatas. Hidup terdiri atas tubuh, jiwa dan Roh. Tubuh dan jiwa tidak abadi, hanya Roh yang abadi. Roh yang akan kembali saat kita dipanggil.

Seberapapun kita sayang dengan keluarga atau dengan orang terdekat kita, saat dia meninggal, tetap harus dikuburkan, kalo tidak maka jasadnya akan membusuk. Demikian juga dengan diri kita. Sering saya seram membayangkan kalo saya mati, enakan dibakar apa dikubur yah? Dibakar aduh panas….menyeramkan…. Dikubur.. Aduh seram yah didalam peti sendirian, ada binatang kecil2 yang akan menggerogoti tubuh kita. Belum lama ini saya harus ikut MRI. Ketika saya masuk ke alat MRI itu, yang terbayang adalah “mungkin begini rasanya didalam peti nantinya”. Sendirian…. Duuh bagaimana bila ternyata kita cuma mati suri??? Wah kalo mikirin begitu ga ada habisnya deh….

Kembali ke siklus kehidupan, kalo tidak ada manusia yang meninggal, maka dunia ini akan penuh sesak. Yah….kelahiran dan kematian adalah kepastian. Lahir dikeluarga manakah kita, kita tidak bisa memilih. Demikian juga dengan cara apakah Tuhan memanggil kita, tidak bisa kita pilih juga. Banyak orang yang harus sakit bertahun2 sebelum akhirnya di panggil Tuhan, tapi ada juga orang yang dipanggil Tuhan dengan tiba2. Saya juga pengen cara terakhir. Tp kan kita ga bisa pilih yah…Kecual kalo kita sendiri yang ingin mengakhiri kehidupan, baru kita bisa pilih. Tp setelah itu kemana kita pergi pasti kamu tau jawabannya. Menjalani kehidupan adalah pilihan. Akan seperti apakah hidup kita, akan jadi apakah kita, akan kemanakah kita setelah meninggal itu adalah pilihan. Semua agama mayoritas mengajarkan surga dan neraka. Tempat dimana Roh kita akan pergi saat kita berpulang.

Rasa sedih dan kehilangan pastilah kita rasakan. Karena hubungan perasaan dengan orang yang kita cintai adalah salah satu wujud kedekatan antara kita dan dia. Tapi semua hal itu akan berlalu. Jadi teringat dengan kata2 Ajahn Bram “Semua akan berlalu”. Yang tertinggal adalah kenangan indah. Dan kehidupan kita yang ditinggalkan pun harus tetap berjalan, karena tugas dan waktu kita didunia ini belum selesai.

Saya teringat ada beberapa kisah saat orang berada di posisi sakratul maut. Ada yang ketakutan, karena ada mahluk berjubah hitam yang siap menjemput, ada juga melewatinya dengan tenang karena ada mahluk berjubah putih yang siap menjemputnya. Akan kemanakan mereka? Kamu pasti sudah tau jawabannya.

Semua pemikiran itu membuat saya bisa berpikir jernih, bahwa hidup ini hanyalah sementara, kita harus menjalani hidup dengan baik sesuai dgn ajaran agama kita, yang mengajarkan bagaimanakah hidup baik saat didunia maupun saat Tuhan memanggil kita. Dan Tuhan jugalah yang akan mendampingi, mengingatkan kita dalam menjalani hidup yang sementara ini. Jadi teringat pepatah “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Itu mungkin lebih berhubungan dengan diri kita. Supaya kita bisa hidup lebih baik, untuk masa depan kehidupan roh kita saat kita dipanggil Tuhan.

Jadi teringat lagi lagu Bila tiba waktuku yang dinyanyikan oleh Band Ungu :
Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Ku akan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku
……………..
Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Izinkan aku mengucap kata taubat pada-Mu

Untuk orang2 yang kita cintai, sayangilah selagi mereka masih hidup. Tunjukanlah cinta dan kasih sayang kita selama kita bisa, karena kalo sudah waktunya Tuhan memanggil mereka, tidak bisa kita tahan, walaupun hanya sedetik yang kita minta untuk membahagiakan dia.

Saya sengaja membuat tulisan ini, supaya saya ingat ketika ada orang yang kita cintai harus ada yang berpulang atau pun mungkin saya sendiri saya bisa menerimanya dengan ikhlas dan sabar, dan bisa mengantarkannya pulang dengan senyum. Dan jangan sampai kita akan mengatakan bahwa “semuanya sudah terlambat”. Karena bagi orang beriman, kematian hanyalah kepindahan ke dunia yang lain. Dunia yang lebih indah. Kematian adalah keuntungan bagi orang beriman, dan artinya tugasnya didunia telah selesai.